Share it

Entri Populer

Loading...

Kamis, 14 Oktober 2010

proses masuknya islam ke Indonesia

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Proses masuk dan penyebaran Islam di Indonesia merupakan bagian penting dalam sejarah Indonesia namun masih dinyatakan paling tidak jelas, hal ini disebabkan oleh sumber-sumber yang ada tentang Islamisasi sangat langka dan sering tidak informatif. Kapan mengapa dan bagaimana konversi Indonesia ini terjadi telah diperdebatkan oleh beberapa ilmuwan akan tetapi masih belum ada kesimpulan secara pasti.

Penyebaran Islam di Indonesia telah terjadi beberapa abad sebelum Islam menjadi agama yang mapan dalam masyarakat lokal, karena telah terjadi kontak antara masyarakat lokal dengan para pedagang muslim yang telah ada di sebagian wilayah Indonesia. Penyebaran Islam ini banyak perlawanan dan tantangan, serta perebutan kekuasaan dan wilayah kekuasaan.

Pengaruh penyebaran agama di Indonesia banyak melalui budaya yang ada pada masyarakat lokal.Orang-orang Indonesia memiliki kemampuan tinggi dalam melakukan akulturisasi budaya. Ini dibuktikan dengan keberhasilan masyarakat Indonesia dalam mengakulturisasi budaya Hindu-Buddha dan kemudianIslam. Islam merupakan salah satu agama yang masuk dan berkembang di Indonesia.Indonesia adalahnegara yang memiliki penganut agama Islam terbesar di dunia.Agama Islamdiperkirakan masuk ke Indonesia dimulai dari daerah pesisir pantai, kemudian diteruskanke daerah pedalaman oleh para ulama atau penyebar ajaran Islam.

1.2 Tujuan dan Manfaat Makalah

a. Tujuan Makalah

1. Menganalisa proses masuknya agama Islam di Indonesia.

2. Menganalisa para pembawa masuknya agama Islam di Indonesia.

3. Menganalisa penyebaran agama Islam di Indonesia.

4. Menganalisa pengaruh masuk dan penyebaran agama Islam di Indonesia

b. Manfaat Makalah

1. Menambah wawasan secara lebih mendalam dan terperinci mengenai problema masuk dan penyebaran agama Islam di Indonesia.

2. Menambah pengetahuan mengenai pengaruh masuk dan penyebaran agama Islam ke Indonesia.

BAB II

ISI

3.1 Proses Masuk dan Berkembangnya Agama dan Kebudayaan Islam

di Indonesia

Islam berkembang lewat perantaraan bahasa Arab.Kontak antara Islam dengan kepulauan nusantara sebagian besar berlangsung di wilayah pesisir pantai. Utamanya lewat proses perdagangan antara penduduk lokal dengan para pedagang bangsa Persia, Arab, dan India Gujarat. Kontak-kontak ini, pada perkembangannya, memunculkan proses akulturisasi budaya. Islam kemudian muncul sebagai “competing” culture Hindu-Buddha. Terdapat berbagai pendapat dan teori yang mngemukakan proses masuknya Islam ke Indonesia. Selain itu juga masing-masing pendapat menggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, ataupun beberapa tulisan dari berbagai sumber.

Diantaranya adalah sebagai berikut:

Beberapa Pendapat Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia

  1. Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke 7:

a. Masuknya Islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.

b. Dari Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.

c. Prof. S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnya berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.

d. W.P. Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).

    1. T.W. Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
  1. Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad ke-11:

Diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam Fatimah Binti Maimun dan rombongannya.Pada makam itu terdapat prasati huruf Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082M).

  1. Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad Ke-13:

a) Petunjuk pertama masuknya Islam menurut M.C. Ricklefs berkaitan dengan bagian utara Sumatera pada tahun 1211 M/ 608 H dipemakaman Lamreh ditemukan nisan Sultan Sulaiman Bin Abdullah bin al-Basir.

b) Pada tahun 1292 M, musafir Venesia dalam perjalanannya dari China singgah di Sumatera dia mengenal Perlak sebagai kota Islam.

Teori lain seputar masuknya Islam dari Timur Tengah ke nusantara diajukan Supartono Widyosiswoyo. Menurutnya, proses masuknya Islam tersebut dapat dibagi ke dalam 3 gelombang yaitu : Jalur Utara, Jalur Tengah, dan Jalur Selatan. Ketiga gelombang ini didasarkan pada pangkal wilayah persebaran Islam yang memasuki Indonesia.

Jalur Utara adalah proses masuknya Islam dari Persia dan Mesopotamia. Dari sana, Islam beranjak ke timur lewat jalur darat Afganistan, Pakistan, Gujarat, lalu menempuh jalur laut menuju Indonesia. Lewat Jalur Utara ini, Islam tampil dalam bentuk barunya yaitu aliran Tasawuf.Dalam aliran ini, Islam dikombinasikan dengan penguatan pengalaman personal dalam pendekatan diri terhadap Tuhan.Aliran inilah yang secara cepat masuk dan melakukan penyebaran penganut baru Islam di nusantara.Aceh merupakah salah satu basis persebaran Islam Jalur Utara ini.

Jalur Tengah adalah proses masuknya Islam dari bagian barat lembah Sungai Yordan dan bagian timur semenanjung Arabia (Hadramaut). Dari sini Islam menyebar dalam bentuknya yang relatif asli, di antaranya adalah aliran Wahabi.Pengaruh terutama cukup mengena di wilayah Sumatera Barat.Ini dapat terjadi oleh sebab dari Hadramaut perjalanan laut dapat langsung sampai ke pantai barat pulau Sumatera.

Jalur Selatan pangkalnya adalah di wilayah Mesir.Saat itu Kairo merupakan pusat penyiaran agama Islam yang modern dan Indonesia memperoleh pengaruh tertama dalam organisasi keagamaan yang disebut Muhammadiyah.Kegiatan lewat jalur ini terutama pendidikan, dakwah, dan penentangan bid’ah.

3.2 Pembawa Islam ke Indonesia

Sebelum pengaruh Islam masuk ke Indonesia, di kawasan Indonesia sudah terdapat kontak-kontak dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif, akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh dariarab, Persia, India dan China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia.Dengan demikian bangsa Arab, Persia, India dan china punya nadil melancarkan perkembangan Islam di kawasan Indonesia.MenurutAhmad MansurSuryanegara dalam bukunya yang berjudul Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaituteori Gujarat, teori Makkah dan teori Persia.Ketiga teori tersebut juga menjelaskan tentang permasalahan waktu masuknyaIslam ke Indonesia, asal negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agamaIslam ke Nusantara.

1. Teori Gujarat

Teori ini berpendapat bahwa agama Islam masuk ke Indonesia pada abad 13 danpembawanya berasal dari Gujarat (Kambay), India. Dasar dari teori ini adalah:

a) Kurangnya fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaranIslam di Indonesia.

b) Hubungan dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia Kambay – Timur Tengah – Eropa.

c) Adanya batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297M yangbercorak khas Gujarat.

d) Adanya batu nisan Malik Ibrahim Tahun (w. 1419) di Gresik Jawa Timur danbeberapa batu nisan di Pasai dipercaya telah diimpor dari Kambay-Gujarat.

Pendukung teori Gujarat adalah Snouck Hurgronye, WF Stutterheim dan BernardH.M. Vlekke.Para ahli yang mendukung teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannyapada saat timbulnya kekuasaan politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai.

Hal ini juga bersumber dari keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernahsinggah di Perlak ( Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudahbanyak penduduk yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yangmenyebarkan ajaran Islam.

2. Teori Makkah

Teori ini merupakan teori baru yang muncul sebagai sanggahan terhadap teori lamayaitu teori Gujarat.

Teori Makkah berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 danpembawanya berasal dari Arab (Mesir).

Dasar teori ini adalah:

1) Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapatperkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudahmendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai denganberita Cina.

2) Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruhmazhab Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. SedangkanGujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.

3) Raja-raja Samudra Pasai menggunakan gelar Al malik, yaitu gelar tersebut berasaldari Mesir.

Pendukung teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahliyang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politikIslam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan yangberperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.

3. Teori Persia

Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia abad 13 dan pembawanyaberasal dari Persia (Iran).

Dasar teori ini adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat IslamIndonesia seperti:

a. Peringatan 10 Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Huseincucu Nabi Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah/Islam Iran. DiSumatra Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/TabutSedangkan di pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.

b. Kesamaan ajaran Sufi yang dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaituAl – Hallaj.

c. Penggunaan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatandabunyi Harakat.

d. Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun 1419 di Gresik.

e. Adanya perkampungan Leren/Leran di Giri daerah Gresik. Leren adalah namasalah satu Pendukung teori ini yaitu Umar Amir Husen dan P.A. HusseinJayadiningrat.

Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing memiliki kebenaran dankelemahannya.Maka itu berdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwaIslammasuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke – 7 dan mengalamiperkembangannya pada abad 13.Sebagai pemegang peranan dalam penyebaranIslamadalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat (India).

3.3 Proses Penyebaran Islam di Indonesia

Pada tahun 1345 dan 1346 M Musafir Maroko Ibnu Batuta, melewati Samudra dalam perjalanannnya ke dan dari Cina mendapati penguasanya adalah pengikut mazhab fikih Syafi’I, hal ini menandakan bahwa mazhab-mazhab yang kelak mendonminasi Indonesia sudah ada sejak awal, dan tidak menutup kemungkinan ketiga mazhab Sunni lainnya (Hanafi,Maliki dan Hanbali) juga sudah ada pada masa itu. Di akhir abad XIV menurut M.C. Ricklefs penyebaran Islam terus berlangsung dengan ditemukannya dua buah batu nisan dari Minye Tujoh di Sumatera Utara yang memmbuktikan adanya peralihan budaya disana, kedua batu itu ada yang bertuliskan bahasa arab dan Melayu dengan huruf Sumatera Kuno teta[pi tetap memuat tentang Islam.Tahun yang tertera pada prasasti tersebut berbeda antara satu dengan yang lainnya, (781H dan 791H/ 1830 dan 1389M) yang sama-sama menunjukkan tahun kematian seorang putri almarhum Sultan Malik as-Zahir.

Proses penyebaran Islam di Indonesia atau proses Islamisasi tidak terlepas dariperanan para pedagang, mubaliqh/ulama, raja, bangsawan atau para adipati. Di pulau Jawa, peranan mubaliqh dan ulama tergabung dalam kelompok para wali yang dikenal dengan sebutan Walisongo atau wali sembilan yang terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim dikenal dengan nama Syeikh Maghribi menyebarkan Islamdi Jawa Timur.

2. Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat menyebarkan Islam di daerah Ampel Surabaya.

3. Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel memiliki nama asli Maulana Makdum Ibrahim, menyebarkan Islam di Bonang (Tuban).

4. Sunan Drajat juga putra dari Sunan Ampel nama aslinya adalah Syarifuddin, menyebarkan Islam di daerah Gresik/Sedayu.

5. Sunan Giri nama aslinya Raden Paku menyebarkan Islam di daerah Bukit Giri (Gresik)

6. Sunan Kudus nama aslinya Syeikh Ja’far Shodik menyebarkan ajaran Islam di daerah Kudus.

7. Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Mas Syahid atau R. Setya menyebarkan ajaran Islam di daerah Demak.

8. Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga nama aslinya Raden Umar Syaid menyebarkan islamnya di daerah Gunung Muria.

9. Sunan Gunung Jati nama aslinya Syarif Hidayatullah, menyebarkan Islam di Jawa Barat (Cirebon)

Demikian sembilan wali yang sangat terkenal di pulau Jawa, Masyarakat Jawa sebagian memandang para wali memiliki kesempurnaan hidup dan selalu dekatdengan Allah, sehingga dikenal dengan sebutan Waliullah yang artinya orang yang dikasihi Allah.

Dari abad XIV juga masih diperoleh bukti penyebaran Islam ke Brunei, Trengganu (Malaysia bagian timur-laut sekarang), dan Jawa Timur. Batu Trengganu menceritakan merupakan sebuah fragmen dari suatu maklumat hukum, yang menandai adanya masuknya hukum Islam kesuatu daerah yang sebelumnya bukan daerah Islam, hal ini dapat dilihat dari penggunaan bahasa dalam batu tersebut bukan bahasa Arab melainkan bahasa Sansekerta, namun tahunnya tidak begitu lengkap,tarikh pada bagian belakangnya menunjukkan rentang waktu antara 1302 dan 1387M

Serangkaian batu nisan yang sangat penting ditemukan di kuburan –kuburan di Jawa Timur yaitu di Trawulan dan Tralaya, di dekat situs istana Majapahit (Hindu-Budha), yang bertuliskan tahun Saka yang digunakan oleh istana-istana Jawa pada zaman Jawa kuno hingga tahun 1633M. Batu-batu tersebut memuat tulisan dari Alqur’an. Batu nisan pertama ditemukan di Trowulan bertarikh 1290 S (1368-69M). Di Tralaya ada beberapa batu nisan yang tarikhnya berkisar 1298 S sampai 1533 S (1376-1611 M), batu-batu tersebut mungkin pemakaman bangsawan Jawa yang memeluk Islam bisa juga anggota-anggota keluarga kerajaan, hal ini membuktikan adanya elite Jawa yang memeluk Islam pada masa Kejayaan Majapahit.

Sekitar awal abad XV berdiri kota perdagangan Malaya yang besar yaitu Malaka. Malaka merpakan pusat perdagangan yang penting dikepulauan barat dan menjadi pusat bertemunya orang-orang muslim asing, yang juga menjadi tempat penopang penyebaran agama Islam. Di tempat ini ditemukan batu nisan Sultan Malaka ke enam Mansyur Syah (822H/1477M) dan juga batu nisan Sultan Pahang yang pertama Muhammad Syah (880H/1475M).

Di Sumatera utara, disana terdapat kuburan-kuburan dari akhir abad XV danXVI membuktikan berdirinya negara-negara Islam, Sulatan Pedir yang pertama Muzaffar Syah dimakamkan pada tahun 902 H (1497M), yang kedua Ma’ruf Syah dimakamkan pada Tahun 917 H (1511M).

Pada awal abad XVI suatu sumber Eropa membuka kemungkinan dilakukan peninjauan secara umum mengenai Islam di Kepualuan Indonesia. Tome Pires adalah ahli obat-obatan selama tahun 1512 hingga 1515 menghabiskan waktunya di Malakasegera setelah negeri tersebut dikalahkan oleh potugis pada tahun 1511 M. dalam bukunya Suma Oriental Pires menuliskan masukknya Islam pertama kali dari Pasai,kemudian raja Minangkabau yang beserta pengikutnya telah menganut agama Islam. Menurut Pires di Jawa tengah dan Jawa Timur yang telah diklaim sebagai daerah kekuasaan raja Hindu-Budha akan tetapi daerah pesisir Timur hingga Surabaya banyak penganut agama Islam kecuali Tuban. Untuk daerah Jawa Barat menurut Pires di wilayah yang berada dibawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran yang menganut agama Hindu-Budha Islamisasi didaerah ini dilakukan dengan cara penaklukan pada abad XVI.

Metode penyebaranIslam ke nusantara cukup bervariasi. Supartono Widyosiswoyo menyebut sekurangnya ada 6 metode yaitu: perdagangan, perkawinan, tasawuf, pendidikan, seni dan pelapisan sosial. Perdagangan merupakan metode penyebaranIslam yang paling berpengaruh. Dalam proses ini, pedagang nusantara dan asing saling bertemu dan bertukar pengaruh. Pedagang asing terdiri atas pedagang Gujarat dan Timur Tengah.Mereka ini bertemu dengan para adipati wilayah pesisir yang hendak melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit.Sebagian dari para pedagang asing ini menetap di wilayah yang berdekatan dengan pantai dan menularkan kebudayaan Islam mereka.

Perkawinan banyak dilakukan antara pedagang selaku perantau dengan putri-putri adipati.Dalam pernikahan, mempelai pria biasanya mengajukan syarat pengucapan kalimat syahadat sebagai sahnya pernikahan.Anak-anak yang dihasilkan dari pernikahan tersebut mengikuti agama orang tuanya.

Tasawuf merupakan metode beragama yang banyak menarik kalangan pribumi Indonesia.Metodenya yang toleran dan tidak mengakibatkan cultural shock cukup membuat “banjir” penganut Islam baru.Tasawuf ini tidak menciptakan posisi diametral dengan budaya Hindu-Buddha ataupun tradisi lokal yang sebelumnya digenggam orang pribumi. Tokoh-tokoh tasawuf seperti Hamzah Fansuri, Syamsudin Pasai, ataupun Wali Songo (termasuk juga Syekh Siti Jenar) mengambil posisi kunci dalam metode penyebaran Islam lewat tasawuf ini. Gerakan Dakwah, melalui Ulama keliling menyebarkan agama Islam (dengan pendekatan Akulturasi dan Sinkretisasi/lambang-lambang budaya).

Pendidikan merupakan salah satu metode penyebaran Islam.Sebelum Islam masuk, Indonesia dikenal sebagai basis pendidikan agama Buddha, khususnya perguruan Nalendra di Sumatera Selatan.Pecantrikan dan Mandala adalah “sekolah” tempat para penuntut ilmu di kalangan penduduk pra Islam.Setelah Islam masuk, peran Pecantrikan dan Mandala tersebut diambil alih dan diberi muatan Islam ke dalamnya.Pendidikan pesantren (ngasu ilmu/perigi/sumur), melalui lembaga/sisitem pendidikan Pondok Pesantren, Kyai sebagai pemimpin, dan santri sebagai murid.

Seni, tidak bisa dipungkiri, juga mempunyai peran yang signifikan dalam penyebaran Islam.Orang Indonesia merupakan seniman-seniman yang punya kemashuran tingkat tinggi. Lewat seni inilah, Islam relatif lebih mudah diterima ketimbang metode-metode lain. Sunan Kalijaga misalnya, menggunakan wayang sebagai cara dakwah. Sunan Bonang menggunakan gamelan untuk melantunkan syair-syair keagamaan.Ini belum termasuk tokoh-tokoh lain yang mengadaptasi seni kerajinan lokal dan Hindu-Buddha untuk kemudian diberi muatan Islam.

Pelapisan sosial akhirnya menempati posisi kunci.Problem utama di agama sebelumnya adalah stratifikasi sosial berdasarkan kasta.Meski tidak terlampau ketat, Hindu di Indonesia sedikit banyak dipengaruhi kasta sosial seperti Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra dan Paria.Utamanya, masyarakat biasa kurang “leluasa” dengan sistem ini oleh sebab mengakibatkan sejumlah keterbatasan.Lalu, Islam datang dan tidak mengenal stratifikasi sosial.Tentu saja, orang-orang Indonesia yang hendak “bebas” merespon dengan baik agama ini.

2.4 Persebaran Islam di Indonesia

Berdasarkan paparan teori-teori di atas, dapat diperkirakan bahwa Islam telah masuk ke Indonesia sejak abad 7 atau 8 M. Pada abad ke-13, Islam sudah berkembang pesat. Menurut catatan A. Hasymi, Kesultanan Perlak merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia yang berdiri pada tanggal 1 Muharam 225 H atau 804 M. Kesultanan ini terletak di wilayah Perlak, Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam, Indonesia. Nama Kesultanan Perlak sebagai sejarah permulaan masuknya Islam di Indonesia kurang begitu dikenal dibandingkan dengan Kesultanan Samudera Pasai. Namun demikian, namaKesultanan Perlak justru terkenal di Eropa karena kunjungan Marco Polo pada tahun 1293.

a. Kerajaan Perlak

Perlak adalah kerajaan Islam tertua di Indonesia.Perlak adalah sebuah kerajaan dengan masa pemerintahan cukup panjang.Kerajaan yang berdiri pada tahun 840 ini berakhir pada tahun 1292 karena bergabung dengan Kerajaan Samudra Pasai.Sejak berdiri sampai bergabungnya Perlak dengan Samudrar Pasai, terdapat 19 orang raja yang memerintah.Raja yang pertama ialah Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah (225 – 249 H / 840 – 964 M).Sultan bernama asli Saiyid Abdul Aziz pada tanggal 1 Muhharam 225 H dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Perlak.Setelah pengangkatan ini, Bandar Perlak diubah menjadi Bandar Khalifah.Kerajaan ini mengalami masa jaya pada masa pemerintahan Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat (622-662 H/1225-1263 M).

Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Perlak mengalami kemajuan pesat terutama dalam bidang pendidikan Islam dan perluasan dakwah Islamiah. Sultan mengawinkan dua putrinya: Putri Ganggang Sari (Putri Raihani) dengan Sultan Malikul Saleh dari Samudra Pasai serta Putri Ratna Kumala dengan Raja Tumasik (Singapura sekarang).Perkawinan ini dengan parameswara Iskandar Syah yang kemudian bergelar Sultan Muhammad Syah.

Sultan Makhdum Alaidin Malik Muhammad Amin Syah II Johan Berdaulat kemudian digantikan oleh Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan Berdaulat (662-692 H/1263-1292 M).Inilah sultan terakhir Perlak.Perlak berkembang sebagai pusat perdagangan, tetapi setelah keamanannya tidak stabil maka banyak pedagang yang mengalihkan kegiatannya ke tempat lain yakni ke Pasai,akhirnya Perlak mengalami kemunduran.

Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh dengan Putri Ganggang Sari.

b. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan ini didirikan oleh Sultan Malik Al-saleh dan sekaligus sebagai raja pertama pada abad ke-13.Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Semawe sekarang (pantai timur Aceh).

Sebagai sebuah kerajaan, raja silih berganti memerintah di Samudra Pasai.Raja-raja yang pernah memerintah Samudra Pasai adalah seperti berikut.

(1) Sultan Malik Al-saleh berusaha meletakkan dasar-dasar kekuasaan Islam dan berusaha mengembangkan kerajaannya antara lain melalui perdagangan dan memperkuat angkatan perang. Samudra Pasai berkembang menjadi negara maritim yang kuat di Selat Malaka.

(2) Sultan Muhammad (Sultan Malik al Tahir I) yang memerintah sejak 1297-1326. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Perlak kemudian disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai.

(3) Sultan Malik al Tahir II (1326 – 1348 M). Raja yang bernama asli Ahmad ini sangat teguh memegang ajaran Islam dan aktif menyiarkan Islam ke negeri-negeri sekitarnya.Akibatnya, Samudra Pasai berkembang sebagai pusat penyebaran Islam.Pada masa pemerintahannya, Samudra Pasai memiliki armada laut yang kuat sehingga para pedagang merasa aman singgah dan berdagang di sekitar Samudra Pasai.Namun, setelah muncul Kerajaan Malaka, Samudra Pasai mulai memudar.Pada tahun 1522 Samudra Pasai diduduki oleh Portugis.Keberadaan Samudra Pasai sebagai kerajaan maritim digantikan oleh Kerajaan Aceh yang muncul kemudian.

Catatan lain mengenai kerajaan ini dapat diketahui dari tulisan Ibnu Battuta, seorang pengelana dari Maroko. Menurut Battuta, pada tahun 1345, Samudera Pasai merupakan kerajaan dagang yang makmur. Banyak pedagang dari Jawa, Cina, dan India yang datang ke sana. Hal ini mengingat letak Samudera Pasai yang strategis di Selat Malaka.Mata uangnya uang emas yang disebur deureuham (dirham).

Di bidang agama, Samudera Pasai menjadi pusat studi Islam.Kerajaan ini menyiarkan Islam sampai ke Minangkabau, Jambi, Malaka, Jawa, bahkan ke Thailand.Dari Kerajaan Samudra Pasai inilah kader-kader Islam dipersiapkan untuk mengembangkan Islam ke berbagai daerah.Salah satunya ialah Fatahillah.Ia adalah putra Pasai yang kemudian menjadi panglima di Demak kemudian menjadi penguasa di Banten.

c. Kerajaan Aceh

Kerajaan Islam berikutnya di Sumatra ialah Kerajaan Aceh.Kerajaan yang didirikan oleh Sultan Ibrahim yang bergelar Ali Mughayat Syah (1514-1528), menjadi penting karena mundurnya Kerajaan Samudera Pasai dan berkembangnya Kerajaan Malaka.Para pedagang kemudian lebih sering datang ke Aceh.

Pusat pemerintahan Kerajaan Aceh ada di Kutaraja (Banda Acah sekarang). Corak pemerintahan di Aceh terdiri atas dua sistem: pemerintahan sipil di bawah kaum bangsawan, disebut golongan teuku; dan pemerintahan atas dasar agama di bawah kaum ulama, disebut golongan tengku atau teungku.

Sebagai sebuah kerajaan, Aceh mengalami masa maju dan mundur.Aceh mengalami kemajuan pesat pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636).Pada masa pemerintahannya, Aceh mencapai zaman keemasan.Aceh bahkan dapat menguasai Johor, Pahang, Kedah, Perak di Semenanjung Melayu dan Indragiri, Pulau Bintan, dan Nias.Di samping itu, Iskandar Muda juga menyusun undang-undang tata pemerintahan yang disebut Adat Mahkota Alam.

Setelah Sultan Iskandar Muda, tidak ada lagi sultan yang mampu mengendalikan Aceh. Aceh mengalami kemunduran di bawah pimpinan Sultan Iskandar Thani (1636- 1641).Dia kemudian digantikan oleh permaisurinya, Putri Sri Alam Permaisuri (1641- 1675). Sejarah mencatat Aceh makin hari makin lemah akibat pertikaian antara golongan teuku dan teungku, serta antara golongan aliran syiah dan sunnah sal jama’ah. Akhirnya, Belanda berhasil menguasai Aceh pada tahun 1904.Dalam bidang sosial, letaknya yang strategis di titik sentral jalur perdagangan internasional di Selat Malaka menjadikan Aceh makin ramai dikunjungi pedangang Islam.

Terjadilah asimilasi baik di bidang sosial maupun ekonomi.Dalam kehidupan bermasyarakat, terjadi perpaduan antara adat istiadat dan ajaran agama Islam.Pada sekitar abad ke-16 dan 17 terdapat empat orang ahli tasawuf di Aceh, yaitu Hamzah Fansuri, Syamsuddin as-Sumtrani, Nuruddin ar-Raniri, dan Abdurrauf dari Singkil.Keempat ulama ini sangat berpengaruh bukan hanya di Aceh tetapi juga sampai ke Jawa.Dalam kehidupan ekonomi, Aceh berkembang dengan pesat pada masa kejayaannya. Dengan menguasai daerah pantai barat dan timur Sumatra, Aceh menjadi kerajaan yang kaya akan sumber daya alam, seperti beras, emas, perak dan timah serta rempah-rempah.

d. Kerajaan Demak

Demak adalah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Kerajaan yang didirikan oleh Raden Patah ini pada awalnya adalah sebuah wilayah dengan nama Glagah atau Bintoro yang berada di bawah kekuasaan Majapahit. Majapahit mengalami kemunduran pada akhir abad ke-15. Kemunduran ini memberi peluang bagi Demak untuk berkembang menjadi kota besar dan pusat perdagangan. Dengan bantuan para ulama Walisongo, Demak berkembang menjadi pusat penyebaran agama Islam di Jawa dan wilayah timur Nusantara.

Sebagai kerajaan, Demak diperintah silih berganti oleh raja-raja.Demak didirikan oleh Raden Patah (1500-1518) yang bergelar Sultan Alam Akhbar al Fatah.Raden Patah sebenarnya adalah Pangeran Jimbun, putra raja Majapahit.Pada masa pemerintahannya, Demak berkembang pesat.Daerah kekuasaannya meliputi daerah Demak sendiri, Semarang, Tegal, Jepara dan sekitarnya, dan cukup berpengaruh di Palembang dan Jambi di Sumatera, serta beberapa wilayah di Kalimantan.Karena memiliki bandar-bandar penting seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik, Raden Patah memperkuat armada lautnya sehingga Demak berkembang menjadi negara maritim yang kuat.Dengan kekuatannya itu, Demak mencoba menyerang Portugis yang pada saat itu menguasai Malaka.Demak membantu Malaka karena kepentingan Demak turut terganggu dengan hadirnya Portugis di Malaka.Namun, serangan itu gagal.

Raden Patah kemudian digantikan oleh Adipati Unus (1518-1521). Walau ia tidak memerintah lama, tetapi namanya cukup terkenal sebagai panglima perang yang berani.

Ia berusaha membendung pengaruh Portugis jangan sampai meluas ke Jawa. Karena mati muda, Adipati Unus kemudian digantikan oleh adiknya, Sultan Trenggono (1521-1546).Di bawah pemerintahannya, Demak mengalami masa kejayaan.Trenggono berhasil membawa Demak memperluas wilayah kekuasaannya.Pada tahun 1522, pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah menyerang Banten, Sunda Kelapa, dan Cirebon.Baru pada tahun 1527, Sunda Kelapa berhasil direbut.Dalam penyerangan ke Pasuruan pada tahun 1546, Sultan Trenggono gugur.

Sepeninggal Sultan Trenggono, Demak mengalami kemunduran. Terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar Sedolepen, saudara Sultan Trenggono yang seharusnya menjadi raja dan Sunan Prawoto, putra sulung Sultan Trenggono.Sunan Prawoto kemudian dikalahkan oleh Arya Penangsang, anak Pengeran Sekar Sedolepen.

Namun, Arya Penangsang pun kemudian dibunuh oleh Joko Tingkir, menantu Sultan Trenggono yang menjadi Adipati di Pajang.Joko Tingkir (1549-1587) yang kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya memindahkan pusat Kerajaan Demak ke Pajang.

Kerajaannya kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Pajang.

Sultan Hadiwijaya kemudian membalas jasa para pembantunya yang telah berjasa dalam pertempuran melawan Arya Penangsang. Mereka adalah Ki Ageng Pemanahan menerima hadiah berupa tanah di daerah Mataram (Alas Mentaok), Ki Penjawi dihadiahi wilayah di daerah Pati, dan keduanya sekaligus diangkat sebagai bupati di daerahnya masing-masing. Bupati Surabaya yang banyak berjasa menundukkan daerah-daerah di Jawa Timur diangkat sebagai wakil raja dengan daerah kekuasaan Sedayu, Gresik, Surabaya, dan Panarukan.

Ketika Sultan Hadiwijaya meninggal, beliau digantikan oleh putranya Sultan Benowo.Pada masa pemerintahannya, Arya Pangiri, anak dari Sultan Prawoto melakukan pemberontakan.Namun, pemberontakan tersebut dapat dipadamkan oleh Pangeran Benowo dengan bantuan Sutawijaya, anak angkat Sultan Hadiwijaya.Tahta Kerajaan Pajang kemudian diserahkan Pangeran Benowo kepada Sutawijaya.Sutawijaya kemudian memindahkan pusat Kerajaan Pajang ke Mataram.

Di bidang keagamaan, Raden Patah dan dibantu para wali, Demak tampil sebagai pusat penyebaran Islam.Raden Patah kemudian membangun sebuah masjid yang megah, yaitu Masjid Demak.

Dalam bidang perekonomian, Demak merupakan pelabuhan transito (penghubung) yang penting.Sebagai pusat perdagangan Demak memiliki pelabuhan-pelabuhan penting, seperti Jepara, Tuban, Sedayu, Gresik.Bandar-bandar tersebut menjadi penghubung daerah penghasil rempah-rempah dan pembelinya.Demak juga memiliki penghasilan besar dari hasil pertaniannya yang cukup besar.Akibatnya, perekonomian Demak berkembang degan pesat.

e. Kerajaan Mataram

Sutawijaya yang mendapat limpahan Kerajaan Pajang dari Sutan Benowo kemudian memindahkan pusat pemerintahan ke daerah kekuasaan ayahnya, Ki Ageng Pemanahan, di Mataram.Sutawijaya kemudian menjadi raja Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama.Pemerintahan Panembahan Senopati (1586-1601) tidak berjalan dengan mulus karena diwarnai oleh pemberontakan-pemberontakan. Kerajaan yang berpusat di Kotagede (sebelah tenggara kota Yogyakarta sekarang) ini selalu terjadi perang untuk menundukkan para bupati yang ingin melepaskan diri dari kekuasaan Mataram, seperti Bupati Ponorogo, Madiun, Kediri, Pasuruan bahkan Demak. Namun, semua daerah itu dapat ditundukkan.Daerah yang terakhir dikuasainya ialah Surabaya dengan bantuan Sunan Giri.

Setelah Senopati wafat, putranya Mas Jolang (1601-1613) naik tahta dan bergelar Sultan Anyakrawati.Dia berhasil menguasai Kertosono, Kediri, dan Mojoagung.Ia wafat dalam pertempuran di daerah Krapyak sehingga kemudian dikenal dengan Pangeran Sedo Krapyak.Mas Jolang kemudian digantikan oleh Mas Rangsang (1613-1645). Raja Mataram yang bergelar Sultan Agung Senopati ing Alogo Ngabdurracham ini kemudian lebih dikenal dengan nama Sultan Agung. Pada masa pemerintahannya, Mataram mencapai masa keemasan.Pusat pemerintahan dipindahkan ke Plered.Wilayah kekuasaannya meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan sebagian Jawa Barat.Sultan Agung bercita-cita mempersatukan Jawa.Karena merasa sebagai penerus Kerajaan Demak, Sultan Agung menganggap Banten adalah bagian dari Kerajaan Mataram.Namun, Banten tidak mau tunduk kepada Mataram.Sultan Agung kemudian berniat untuk merebut Banten.

Namun, niatnya itu terhambat karena ada VOC yang menguasai Sunda Kelapa.VOC juga tidak menyukai Mataram. Akibatnya, Sultan Agung harus berhadapan dulu dengan VOC. Sultan Agung dua kali berusaha menyerang VOC: tahun 1628 dan 1629.Penyerangan tersebut tidak berhasil, tetapi dapat membendung pengaruh VOC di Jawa.Sultan Agung membagi sistem pemerintahan Kerajaan Mataram seperti berikut.

(1) Kutanegara, daerah pusat keraton. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh Patih Lebet (Patih Dalam) yang dibantu Wedana Lebet (Wedana Dalam).

(2) Negara Agung, daerah sekitar Kutanegara. Pelaksanaan pemerintahan dipegang Patih Jawi (Patih Luar) yang dibantu Wedana Jawi (Wedana Luar).

(3) Mancanegara, daerah di luar Negara Agung. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati.

(4) Pesisir, daerah pesisir. Pelaksanaan pemerintahan dipegang oleh para Bupati atau syahbandar.

Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan digantikan oleh Amangkurat I (1645-1677).Amangkurat I menjalin hubungan dengan Belanda.Pada masa pemerintahannya.Mataram diserang oleh Trunojaya dari Madura, tetapi dapat digagalkan karena dibantu Belanda.Amangkurat I kemudian digantikan oleh Amangkurat II (1677-1703).Pada masa pemerintahannya, wilayah Kerajaan Mataram makin menyempit karena diambil oleh Belanda.Setelah Amangkurat II, raja-raja yang memerintah Mataram sudah tidak lagi berkuasa penuh karena pengaruh Belanda yang sangat kuat. Bahkan pada tahun 1755, Mataram terpecah menjadi dua akibat Perjanjian Giyanti:

Ngayogyakarta Hadiningrat (Kesultanan Yogyakarta) yang berpusat di Yogyakarta dengan raja Mangkubumi yang bergelar Hamengku Buwono I dan Kesuhunan Surakarta yang berpusat di Surakarta dengan raja Susuhunan Pakubuwono III.Dengan demikian, berakhirlah Kerajaan Mataram.

Kehidupan sosial ekonomi Mataram cukup maju.Sebagai kerajaan besar, Mataram maju hampir dalam segala bidang, pertanian, agama, budaya.Pada zaman Kerajaan Majapahit, muncul kebudayaan Kejawen, gabungan antara kebudayaan asli Jawa, Hindu, Buddha, dan Islam, misalnya upacara Grebeg, Sekaten. Karya kesusastraan yang terkenal adalah Sastra Gading karya Sultan Agung.Pada tahun 1633, Sultan Agung mengganti perhitungan tahun Hindu yang berdasarkan perhitungan matahari dengan tahun Islam yang berdasarkan perhitungan bulan.

f. Kerajaan Banten

Kerajaan yang terletak di barat Pulau Jawa ini pada awalnya merupakan bagian dari Kerajaan Demak.Banten direbut oleh pasukan Demak di bawah pimpinan Fatahillah.Fatahillah adalah menantu dari Syarif Hidayatullah.Syarif Hidayatullah adalah salah seorang wali yang diberi kekuasaan oleh Kerajaan Demak untuk memerintah di Cirebon.Syarif Hidayatullah memiliki 2 putra laki-laki, pangeran Pasarean dan Pangeran Sabakingkin.Pangeran Pasareaan berkuasa di Cirebon. Pada tahun 1522, Pangeran Saba Kingkin yang kemudian lebih dikenal dengan nama Hasanuddin diangkat menjadi Raja Banten.

Setelah Kerajaan Demak mengalami kemunduran, Banten kemudian melepaskan diri dari Demak.Berdirilah Kerajaan Banten dengan rajanya Sultan Hasanudin (1522- 1570).Pada masa pemerintahannya, pengaruh Banten sampai ke Lampung.Artinya, Bantenlah yang menguasai jalur perdagangan di Selat Sunda.Para pedagang dari Cina, Persia, Gujarat, Turki banyak yang mendatangi bandar-bandar di Banten. Kerajaan Banten berkembang menjadi pusat perdagangan selain karena letaknya sangat strategis, Banten juga didukung oleh beberapa faktor di antaranya jatuhnya Malaka ke tangan Portugis (1511) sehingga para pedagang muslim berpindah jalur pelayarannya melalui Selat Sunda. Faktor lainnya, Banten merupakan penghasil lada dan beras, komoditi yang laku di pasaran dunia.Sultan Hasanudin kemudian digantikan putranya, Pangeran Yusuf (1570-1580).Pada masa pemerintahannya, Banten berhasil merebut Pajajaran dan Pakuan.

Pangeran Yusuf kemudian digantikan oleh Maulana Muhammad.Raja yang bergelar Kanjeng Ratu Banten ini baru berusia sembilan tahun ketika diangkat menjadi raja.Oleh sebab itu, dalam menjalankan roda pemerintahan, Maulana Muhammad dibantu oleh Mangkubumi.Dalam tahun 1595, dia memimpin ekspedisi menyerang Palembang.Dalam pertempuran itu, Maulana Muhammad gugur.

Maulana Muhammad kemudian digantikan oleh putranya Abu’lmufakhir yang baru berusia lima bulan. Dalam menjalankan roda pemerintahan, Abu’lmufakhir dibantu oleh Jayanegara. Abu’lmufakhir kemudian digantikan oleh Abu’ma’ali Ahmad Rahmatullah. Abu’ma’ali Ahmad Rahmatullah kemudian digantikan oleh Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692).

Sultan Ageng Tirtayasa menjadikan Banten sebagai sebuah kerajaan yang maju dengan pesat. Untuk membantunya, Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun 1671 mengangkat purtanya, Sultan Abdulkahar, sebagi raja pembantu. Namun, sultan yang bergelar Sultan Haji berhubungan dengan Belanda.Sultan Ageng Tirtayasa yang tidak menyukai hal itu berusaha mengambil alih kontrol pemerintahan, tetapi tidak berhasil karena Sultan Haji didukung Belanda.Akhirnya, pecahlah perang saudara.Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap dan dipenjarakan.Dengan demikian, lambat laun Banten mengalami kemunduran karena tersisih oleh Batavia yang berada di bawah kekuasaan Belanda.

g. Kerajaan Cirebon

Kerajaan yang terletak di perbatasan antara Jawa Barat dan Jawa Tengah didirikan oleh salah seorang anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati dengan gelar Syarif Hidayatullah.Syarif Hidayatullah membawa kemajuan bagi Cirebon.Ketika Demak mengirimkan pasukannya di bawah Fatahilah (Faletehan) untuk menyerang Portugis di Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah memberikan bantuan sepenuhnya.Bahkan pada tahun 1524, Fatahillah diambil menantu oleh Syarif Hidayatullah.Setelah Fatahillah berhasil mengusir Portugis dari Sunda Kelapa, Syarif Hidayatullah meminta Fatahillah untuk menjadi Bupati di Jayakarta.

Syarif Hidayatullah kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Pangeran Pasarean.Inilah raja yang menurunkan raja-raja Cirebon selanjutnya.Pada tahun 1679, Cirebon terpaksa dibagi dua, yaitu Kasepuhan dan Kanoman.Dengan politik de vide at impera yang dilancarkan Belanda yang pada saat itu sudah berpengaruh di Cirebon, kasultanan Kanoman dibagi dua menjadi Kasultanan Kanoman dan Kacirebonan. Dengan demikian, kekuasaan Cirebon terbagi menjadi 3, yakni Kasepuhan, Kanoman, dan Kacirebonan.Cirebon berhasil dikuasai VOC pada akhir abad ke-17.

h. Kerajaan Gowa dan Tallo

Kerajaan yang terletak di Sulawesi Selatan sebenarnya terdiri atas dua kerjaan:Gowa dan Tallo. Kedua kerajaan ini kemudian bersatu. Raja Gowa, Daeng Manrabia, menjadi raja bergelar Sultan Alauddin dan Raja Tallo, Karaeng Mantoaya, menjadi perdana menteri bergelar Sultan Abdullah. Karena pusat pemerintahannya terdapat di Makassar, Kerajaan Gowa dan Tallo sering disebut sebagai Kerajaan Makassar.

Karena posisinya yang strategis di antara wilayah barat dan timur Nusantara, Kerajaan Gowa dan Tallo menjadi bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur yang kaya rempah-rempah.Kerajaan Makassar memiliki pelaut-pelaut yang tangguh terutama dari daerah Bugis.Mereka inilah yang memperkuat barisan pertahanan laut Makassar.

Raja yang terkenal dari kerajaan ini ialah Sultan Hasanuddin (1653-1669).Hasanuddin berhasil memperluas wilayah kekuasaan Makassar baik ke atas sampai ke Sumbawa dan sebagian Flores di selatan.

Karena merupakan bandar utama untuk memasuki Indonesia Timur, Hasanuddin bercita-cita menjadikan Makassar sebagai pusat kegiatan perdagangan di Indonesia bagian Timur.Hal ini merupakan ancaman bagi Belanda sehingga sering terjadi pertempuran dan perampokan terhadap armada Belanda.Belanda kemudian menyerang Makassar dengan bantuan Aru Palaka, raja Bone.Belanda berhasil memaksa Hasanuddin, Si Ayam Jantan dari Timur itu menyepakati Perjanjian Bongaya pada tahun 1667. Isi perjanjian itu ialah: Belanda mendapat monopoli dagang di Makassar, Belanda boleh mendirikan benteng di Makassar, Makassar harus melepaskan jajahannya, dan Aru Palaka harus diakui sebagai Raja Bone.

Sultan Hasanuddin kemudian digantikan oleh Mapasomba.Namun, Mapasomba tidak berkuasa lama karena Makassar kemudian dikuasai Belanda, bahkan seluruh Sulawesi Selatan.

Tata kehidupan yang tumbuh di Makassar dipengaruhi oleh hukum Islam.Kehidupan perekonomiannya berdasarkan pada ekonomi maritim: perdagangan dan pelayaran. Sulawesi Selatan sendiri merupakan daerah pertanian yang subur.Daerah-daerah taklukkannya di tenggara seperti Selayar dan Buton serta di selatan seperti Lombok, Sumbawa, dan Flores juga merupakan daerah yang kaya dengan sumber daya alam.Semua itu membuat Makassar mampu memenuhi semua kebutuhannya bahkan mampu mengekspor.

Karena memiliki pelaut-pelaut yang tangguh dan terletak di pintu masuk jalur perdagangan Indonesia Timur, disusunlah Ade’Allapialing Bicarana Pabbalri’e, sebuah tata hukum niaga dan perniagaan dan sebuah naskah lontar yang ditulis oleh Amanna Gappa.

i. Kerajaan Ternate

Ternate merupakan kerajaan Islam di timur yang berdiri pada abad ke-13 dengan raja Zainal Abidin (1486-1500).Zainal Abidin adalah murid dari Sunan Giri di Kerajaan Demak.Kerajaan Tidore berdiri di pulau lainnya dengan Sultan Mansur sebagai raja.Kerajaan yang terletak di Indonesia Timur menjadi incaran para pedagang karena Maluku kaya akan rempah-rempah. Kerajaan Ternate cepat berkembang berkat hasil rempah-rempah terutama cengkih.

Ternate dan Tidore hidup berdampingan secara damai.Namun, kedamaian itu tidak berlangsung selamanya.Setelah Portugis dan Spanyol datang ke Maluku, kedua kerajaan berhasil diadu domba.Akibatnya, antara kedua kerajaan tersebut terjadi persaingan.Portugis yang masuk Maluku pada tahun 1512 menjadikan Ternate sebagai sekutunya dengan membangun benteng Sao Paulo.Spanyol yang masuk Maluku pada tahun 1521 menjadikan Tidore sebagai sekutunya.

Dengan berkuasanya kedua bangsa Eropa itu di Tidore dan Ternate, terjadi pertikaian terus-menerus.Hal itu terjadi karena kedua bangsa itu sama-sama ingin memonopoli hasil bumi dari kedua kerajaan tersebut. Di lain pihak, ternyata bangsa Eropa itu bukan hanya berdagang tetapi juga berusaha menyebarkan ajaran agama mereka. Penyebaran agama ini mendapat tantangan dari Raja Ternate, Sultan Khairun (1550-1570).Ketika diajak berunding oleh Belanda di benteng Sao Paulo, Sultan Khairun dibunuh oleh Portugis.

Setelah sadar bahwa mereka diadu domba, hubungan kedua kerajaan membaik kembali.Sultan Khairun kemudian digantikan oleh Sultan Baabullah (1570-1583).Pada masa pemerintahannya, Portugis berhasil diusir dari Ternate.Keberhasilan itu tidak terlepas dari bantuan Sultan Tidore.Sultan Khairun juga berhasil memperluas daerah kekuasaan Ternate sampai ke Filipina.

Sementara itu, Kerajaan Tidore mengalami kemajuan pada masa pemerintahan Sultan Nuku.Sultan Nuku berhasil memperluas pengaruh Tidore sampai ke Halmahera, Seram, bahkan Kai di selatan dan Misol di Irian.

Dengan masuknya Spanyol dan Portugis ke Maluku, kehidupan beragama dan bermasyarakat di Maluku jadi beragam: ada Katolik, Protestan, dan Islam. Pengaruh Islam sangat terasa di Ternate dan Tidore.Pengaruh Protestan sangat terasa di Maluku bagian tengah dan pengaruh Katolik sangat terasa di sekitar Maluku bagian selatan.

Maluku adalah daerah penghasil rempah-rempah yang sangat terkenal bahkan sampai ke Eropa.Itulah komoditi yang menarik orang-orang Eropa dan Asia datang ke Nusantara.Para pedagang itu membawa barang-barangnya dan menukarkannya dengan rempah-rempah. Proses perdagangan ini pada awalnya menguntungkan masyarakat setempat. Namun, dengan berlakunya politik monopoli perdagangan, terjadi kemunduran di berbagai bidang, termasukkesejahteraan masyarakat.

2.5Wujud Akulturasi Kebudayaan Indonesia dan Kebudayaan Islam

Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaanyang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi (prosesbercampurnya dua (lebih) kebudayaan karena percampuran bangsa-bangsa dan salingmempengaruhi), yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia.Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang.Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifatkebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Berikut wujud budaya yang telah mengalami akulturisasi :

Bahasa

Awalnya, konversi Islam terjadi di semenanjung Malaya dan sekitarnya.Menyusul konversi tersebut, penduduknya meneruskan penggunaan bahasa Melayu.Melayu ini digunakan sebagai bahasa dagang dan banyak digunakan di bagian barat kepulauan Indonesia.Sesuai dengan perkembangan awal Islam, bahasa Melayu pun telah memasukkan sejumlah kosakata Arab ke dalam struktur bahasanya. Bahkan, Taylor mencatat sekitar 15% dari kosakata bahasa Melayu merupakan adaptasi dari bahasa Arab.6 Selain itu, terjadi modifikasi atas huruf-huruf Pallawa ke dalam huruf Arab, dan ini kemudian dikenal sebagai huruf Jawi.

Seiring naiknya Islam sebagai agama dominan di kepulauan nusantara, terjadi pula adaptasi bahasa yang digunakan Islam. Ini diantaranya merasuk ke struktur penanggalan Saka yang menjadi mainstream di kebudayaan Hindu-Buddha. Misalnya, nama-nama bulan Islam kemudian disinkretisasi oleh Sultan Agung (Mataram Islam) ke dalam sistem penanggalan Saka.Penanggalan Saka berbasiskan penanggalan Matahari (mirip Gregorian), sementara penanggalan Islam berbasis peredaran Bulan.

Sultan Agung pada 1625 mendekritkan perubahan penanggalan Saka menjadi penanggalan Jawa yang banyak dipengaruhi budaya Islam. Nama-nama bulan yang digunakan adalah 12, sama dengan penanggalan Hijriyah (versi Islam). Demikian pula, nama-nama bulan mengacu pada bahasa bulan Arab yaitu Sura (Muharram), Sapar (Safar), Mulud (Rabi’ul Awal), Bakda Mulud (Rabi’ul Akhir), Jumadilawal (Jumadil Awal), Jumadilakir (Jumadil Akhir), Rejeb (Rajab), Ruwah (Sya’ban), Pasa (Ramadhan), Sawal (Syawal), Sela (Dzulqaidah), dan Besar (Dzulhijjah). Namun, penanggalan hariannya tetap mengikuti penanggalasn Saka oleh sebab penanggalan harian Saka saat itu paling banyak digunakan penduduk.

Selain masalah pembagian bulan, bahasa Arab pun merambah ke struktur kosakata. Sama dengan sejumlah bahasa Sanskerta yang akhirnya diakui selaku bagian dari bahasa Indonesia, sejumlah kata Arab pun akhirnya masuk ke dalam struktur bahasa Indonesia, yang di antaranya adalah :

http://2.bp.blogspot.com/_FT9lZoExYvA/Sn3KY7KXgcI/AAAAAAAAAH0/nBmPXzeZMbM/s400/arab.png
Bahasa Arab ini bahkan semakin signifikan di abad ke-18 dan 19 di Indonesia, di mana masyarakat nusantara lebih dapat membaca huruf Arab ketimbang Latin. Bahkan, di masa kolonial Belanda ini, mata uang ditulis dalam huruf Arab Melayu, Arab Pegon, ataupun Arab Jawi. Tulisan Arab pun kerap masih diketemukan di dalam tulisan batu nisan.

Pesantren.

Salah satu wujud pengaruh Islam yang secara budaya lebih sistemik adalah pesantren.Asal katanya kemungkinan “shastri” yang berarti “orang-orang yang tahu kitab suci agama Hindu” dari bahasa Sanskerta.Atau, “cantrik” dari bahasa Jawa yang berarti “orang yang mengikuti kemana pun gurunya pergi.Fenomena pesantren sesungguhnya telah berkembang sebelum Islam masuk.Pesantren saat itu menjadi tempat pendidikan dan pengajaran agama Hindu. Setelah Islam masuk, materi dan proses pendidikan di pesantren diambilalih oleh Islam.

Pesantren pada dasarnya sebuah asrama pendidikan Islam tradisional.Siswa tinggal bersama dan belajar ilmu-ilmu keagamaan di bawah bimbingan guru yang dikenal dengan sebutan Kyai.Asrama siswa berada di dalam kompleks pesantren di mana kyai berdomisili. Dengan kata lain, pesantren dapat diidentifikasi dengan adanya 5 elemen pokok yaitu : pondok, masjid, santri, kyai, dan kitab-kitab klasik.

Seputar peran signifikan pesantren ini, Harry J. Benda menyebut bahwa sejarah Islam ala Indonesia adalah sejarah memperbesarkan peradaban santri dan pengaruhnya terhadap kehidupan keagamaan, sosial, dan ekonomi di Indonesia.Melalui pesantren ini, budaya Islam dikembangkan dan beradaptasi terhadap budaya lokal yang berkembang disekitarnya.
Masjid.

Masjid adalah tempat beribadah bagi kalangan Islam.Masjid-masjid awal yang terbentuk pasca penyebaranIslam ke nusantara cukup berbeda dengan yang berkembang di Timur Tengah.Di antaranya adalah, tidak terdapatnya kubah di puncak bangunan. Kubah ini tergantikan dengan semacam “meru” yaitu susunan limas (biasanya tiga tingkat atau lima) serupa dengan bangunan-bangunan Hindu. Masjid Banten memiliki meru 5 lingkat, sementara masjid Kudus dan Demak 3 tingkat. Namun secara umum, bentuk bangunan dinding yang bujur sangkar adalah sama dengan yang berkembang di budaya induknya.Lalu, di Indonesia menara masjid biasanya tidak dibangun.Peran menara ini digantikan oleh bedug atau tabuh yang menandai masuknya waktu shalat.Setelah bedug atau tabuh dibunyikan, mulailah panggilan sembahyang dilakukan.Namun, ada pula menara yang dibangun semisal di masjid Kudus dan Demak.Uniknya, bentuk menara mirip dengan bangunan candi Hindu.Meskipun kini wujud masjid yang dibangun di Indonesia telah dilengkapi menara, tetapi bangunan-bangunan masjid jauh di masa sebelumnya masih mempertahankan bentuk lokalnya.

(Masjid Demak)

Makam

Makam adalah lokasi dikebumikannya jasad seseorang pasca meninggal dunia.Setelah pengaruh Islam, makam seorang berpengaruh tidak lagi diwujudkan ke dalam bentuk candi melainkan Cuma sekadar “cungkup.” Juga, di lokasi tubuh dikebumikan ditandai oleh nisan. Nisan ini merupakan bentuk penerapan Islam di Indonesia. Nisan Indonesia bukan sekadar batu, melainkan juga terdapat ukiran yang menandai nama siapa yang dikebumikan.

(Makam di Tuban)


Seni Ukir

Ajaran Islam (terutama di Saudi Arabia) melakukan pelarangan kreasi makhluk bernyawa ke dalam seni.Larangan ini pun dipegang teguh oleh orang-orang Islam Indonesia.Sebagai penggantinya, mereka aktif membuat kaligrafi dan ukiran yang “tersamar”.Misalnya bentuk dedaunan, bunga, bukit-bukit karang, pemandangan, serta garis-garis geometris.Termasuk ke dalamnya pembuatan kaligrafi huruf Arab.Ukiran seperti ini terdapat di Masjid Mantingan dekat Jepara, daerah Indonesia yang memang terkenal karena seni ukirnya.

Aksara dan Seni Sastra

Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksaraatau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembangtulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisanArab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tandatandaa, i, u seperti lazimnya tulisan Arab.Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyakdigunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.

Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalahseni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu – Budha dan sastraIslam yang banyak mendapat pengaruh Persia.Seperti pengaruh Hindu-Buddha, Islam pun memberi pengaruh terhadap seni sastra nusantara.Sastra yang dipengaruhi Islam ini terutama berkembang di daerah sekitar Selat Malaka dan Jawa.Di sekitar Selat Malaka merupakan perkembangan baru, sementara di Jawa merupakan kembangan dari sastra Hindu-Buddha.Para sastrawan Islam melakukan penggubahan-penggubahan baru terhadap Mahabarata, Ramayana, dan Pancatantra. Hasil gubahan ini misalnya Hikayat Pandawa Lima, Hikayat Perang Pandawa Jaya, Hikayat Seri Rama, Hikayat Maharaja Rawana, Hikayat Panjatanderan. Di Jawa, muncul sastra-sastra lama yang dipengaruhi Islam semisal Bratayuda, Serat Rama, Arjuna Sasrabahu.

Di Melayu berkembang Sya’ir, terutama yang digubah Hamzah Fansuri berupa suluk (kitab yang membentangkan persoalan tasawuf).Suluk yang digubah Fansuri ini diantaranya Sya’ir Perahu, Sya’ir Si Burung Pingai, Asrar al-Arifin, dan Syarab al Asyiqin.

Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul)dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jamanHindu.

Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:

a. Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokohsejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulisdalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa). Contoh hikayat yangterkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat PandawaLima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).

b. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwasejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.

c. Suluk adalah kitab yang membentangkan soal-soal tasawwuf contohnya SulukSukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.

d. Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentukkitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk.Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Bukti mengenai kedatangan agama Islam telah diuraikan diatas, dan pendapat serta teori yang berdasarkan dari bukti-bukti yang ada tidak dengan mudah memberikan kesimpulan-kesimpulan yang tegas.Karena alasan itulah para ilmuwan berbeda sangat tajam dalam memperdebatkan masuknya Islam di Indonesia.

Islam banyak dianut di Indonesia sejak awal abad Islam ada di abad ke tujuh namun berkembangnya Islam dengan pesat di Indonesia terjadi pada abad XI – XII. Terdapat suatu pernyataan yang bisa diterima secara luas mengenai masuk dan berkembangnya Islam secara pesat di Indonesia pada abad XIII dengan cara membentuk komunitas-komunitas Islam yang berkembang dan menarik perhatian kebanyakan orang Indonesia saat itu, dan mampu mengentaskan mereka dari kasta Hindu.Sehingga banyak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia antara lain Kerajaan Perlak, Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Aceh, Kerajaan Demak, Kerajaan Banten, Kerajaan Cirebon, Kerajaan Gowa-Tallo dan Kerajaan Ternate.

Islam merupakan bagian penting sejarah Indonesia akan tetapi masuknya Islam di Indonesia masih menjadi perdebatan dikalanagan para ilmuewan untuk kepastiannya, dan berapa besar pengaruhnya terhadap masyarakat dimasa itu masih menjadi bahan perdebatan.

3.2 Saran

Masyarakat Indonesia seharusnya dapat memberikan kontribusi dalam hal ini terutama dalam hal sejarah negara sebagai wujud patriotisme kepada negara.Kesulitan dalam mengumpulkan sumber-sumber seharusnya lebih menjaga situs-situs purbakala yang ada sehingga dapat terjaga bukti-bukti sejarah yang langka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar